Pasuruan, korannasional.id - Menyoal kain batik yang menjadi khazanah Nusantara seperti tidak akan pernah ada habisnya.
Perajin batik yang dikenal dengan pewarna alaminya, Ferry Sugeng Santoso, bercerita tentang kreasinya yang laku hingga ke luar negeri seharga Rp 350 juta.
Batik itu dibuat selama setahun dengan melibatkan pemesan secara langsung dalam merancang motif bertema kasumpurnan.
"Kain batik yang kami gunakan sebenarnya tidak hanya sebagai fashion saja, melainkan ada makna filosofis yang harus dapat dipahami." Begitu kata Ferry Sugeng Santoso, pengerajin batik asal Dusun Pajaran, Desa Gunting, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (3/10/2025).
Dia menjelaskan di Alam Batik -rumah produksinya- ada tiga macam kain batik yang dihasilkan, sehingga lembaran hasil kerajinan tangan itu bisa bernilai tinggi.
Pertama, kain batik yang terbatas pada fungsinya yakni sebagai fashion. Pada kain batik ini konsumen melihat pada rupa batik berikut dengan bahan kainnya.
Kedua, batik yang mengutamakan pada seni. Pada batik jenis ini, dia membuat motif berbeda daripada umumnya.
"Sedangkan yang yang ketiga yakni membuat batik filosofis, dan batik ini yang paling mahal. Karena juga melibatkan pemesan secara langsung pada proses pembuatannya," sambung dia.
Nah, pada proses pembuatan batik filosofis Kasumpurnan yang terjual seharga Rp 350 juta pada tahun 2012 silam, dibutuhkan waktu selama setahun, dan terdapat ritualnya.
Menurut dia, hal ini terjadi karena melibatkan pemesan dalam proses pembuatannya, dengan komunikasi dan mengirim motif gambar secara berkala.
"Selama proses pembuatan batik, saya komunikasi termasuk menanyakan fungsi guna kain batik dan harapan doanya."
"Dan batik itu ada sastra gambar yang di dalamnya ada sentuhan jiwa. Nah yang dipesan oleh pengusaha asal Singapura itu bertema batik kasumpurnan," kata dia.
Sedangkan bahan yang digunakan tetap menggunakan pewarna alami dengan jenis kain katun, dengan ukuran kain, panjang, 2,5 meter dan lebar 115 centimeter.
"Saat itu, pengusaha Singapura itu mau beli kain master Kasumpurnan saat pameran di Jakarta tetapi tidak saya jual. Kemudian dia pesan, kemudian saya buatkan, hasilnya dia ambil ke Pasuruan," kata Ferry.
Selain batik 'Kasumpurnan' yang pernah laku ratusan juta rupiah ini, dia juga sudah pernah memproduksi batik filosofis lainnya dengan motif Wahyu Putra Manjing, Tali Sukmo, dan Wahyu Tirto Rahayu.
"Ada delapan batik filosofis yang sudah saya buat. Dan harganya sama seperti batik Kasampurnan," sebut dia.
Ferry Sugeng Santoso adalah perajin batik tulis asal Kabupaten Pasuruan. Dia dikenal sebagai perajin batik yang menggunakan pewarna alami sejak 2005.
Dia pernah meraih predikat Juara I tingkat Nasional Perajin Batik Nusantara. Selain itu, Ferry pun sudah beberapa kali mengikuti pameran di laur negeri.
Tak cuma membuat batik, di rumah produksinya Alam Batik juga dibuka kelas edukasi tentang pengetahuan batik. Termasuk menerima mahasiswa dari luar negeri untuk membatik. (Rani)
