Surabaya, korannasional.id - Sebuah bukti bahwa nostalgia bisa hidup kembali melalui warung sederhana yang menjual rasa dan suara.
Bertempat di lantai dua Pasar Tunjungan Surabaya, Jawa Timur, aroma rica-rica pedas berpadu dengan dentingan nada dari kaset lawas.
Di sudut ruangan, suara serak pita analog menyanyikan lagu-lagu era 80-an. Di situlah Warung Bagejo berdiri menjadi sebuah ruang kecil di mana musik, makanan, dan kenangan berpadu dalam satu harmoni.
“Ini warung konsepnya warung-warungan, skena warung jadi menguatkan di jualan makanan lokal Nusantara. Kebetulan saya dari Manado jadi aku utamakan makanan khas Manado,” ujar Faldi Posumah.
Tidak hanya menyajikan makanan, warung Bagejo juga menghadirkan rekaman kenangan. Di salah satu sisi warung, ia menata rapi rak kayu berisi kaset pita, CD, dan piringan hitam dari era 1970-an hingga 2000-an.
“Bagejo ini konsepnya ada record store-nya. Jualan kaset, piringan hitam, dan CD yang sudah terkurasi. Lebih banyak lagu-lagu Indonesia lawas,” imbuhnya.
Kaset-kaset itu bukan hanya barang dagangan, melainkan warisan yang diselamatkannya.
“Dapat dari keluarga, opa yang rumahnya kebetulan banyak koleksi zaman jadul termasuk kamera analog dan kaset-kaset, ya sudah saya ambil daripada dibuang lebih baik saya selamatkan saja,” katanya.
Gen Z dan Gelombang Baru Musik Analog
Menariknya, pembeli di record store-nya tidak hanya dari kalangan tua, anak-anak muda Gen Z justru jadi pelanggan utamanya yang tumbuh di era Spotify dan YouTube.
“Nah malah Gen Z saat ini yang cari kaset, CD, atau piringan hitam. Mereka itu kaya melihat dari orang tuanya yang zaman dulu. Mulai dari pakaian, style, sampai berubah ke model vintage gitu," ujar Faldi.
"Termasuk musik, dengan beli kaset atau piringan hitam. Koleksian yang lebih tua malah yang dicari, mereka juga paham musik dan sejarahnya. Saya sampai kaget sih.”
“Karena kita belum menginfokan ada record store,” sambungnya.
Mereka datang tidak hanya membeli, tapi juga berbincang soal musik, tukar koleksi, bahkan membawa tape player sendiri.
“Biasanya pembeli di sini para cinta musik karena mereka sudah punya alat pemutar kaset atau piringan hitam,” katanya.
Koleksi kaset, CD, atau piringan hitam yang ada di warung Bagejo ini semua genre dengan harga beragam.
Namun baginya, nilai utamanya bukan di angka tetapi di cerita di balik setiap pita kaset.
"Kalau saya pribadi lebih cari yang Indonesian rare group karena disko 80-an susah. Terbaru Diskoria rilisan tahun ini untuk kaset padahal mereka sudah cetak vinil lebih dulu. Kebetulan saya dapat merah,” ujar pria yang biasa disapa Fadli itu.
“Mulai Rp 35.000 sampai Rp 200.000, tergantung kondisi kaset dan albumnya. Kalau yang langka bisa sampai jutaan,” imbuhnya.
Menjaga Warisan Suara
Kini dengan telaten ini merawat setiap kaset, CD dan piringan hitam. Bahkan ia sering membantu orang yang ingin memperbaiki tape atau turntable lama.
“Untuk perawatannya ya harus ngeplay aja sih. Kalau yang sudah lama dan berjamur ada treatment-nya sendiri, dibersihkan pakai kapas dan alkohol. Di Surabaya juga ada tukang yang bisa servis audio, kita ada langganan juga,” tutur Fadli.
Selain ia juga tidak berhenti hanya pada koleksi, untuk kaset, CD dan piringan hitam tanpa cover dan rusak, ia daur ulang agar tetap punya nilai guna menjadi hiasan di warung Bagejo sendiri.
"Jadi mendaur ulang dengan low budgeting. Ke depan ada keinginan untuk me-recycle barang-barang supaya lebih bermanfaat lagi,” pungkasnya.
