Jakarta, korannasional.id – Misteri kematian bocah perempuan berinisial AR (8) yang ditemukan tewas di kamar indekos di Jalan Arwana, Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, pada Minggu (21/9/2025), mulai terungkap.
Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur memaparkan hasil pemeriksaan forensik terhadap jenazah korban yang diduga mengalami kekerasan sebelum meninggal.
Hasil Otopsi RS Polri Kramat Jati
Kabid Yandokpol RS Polri, Kombes Ahmad Fauzi, mengatakan jenazah AR tiba di RS Polri pada Minggu (21/9/2025) sekitar pukul 05.42 WIB. Otopsi kemudian dilakukan pada pukul 08.15 WIB di hari yang sama.
“Jenazah sudah dalam kondisi membusuk. Kami temukan jejas (cedera) di leher kanan dan kiri, serta luka terbuka di puncak kepala dengan resapan darah hingga ke tulang,” ujar Fauzi di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (23/9/2025).
Selain luka di kepala dan leher, tim forensik juga menemukan adanya tonjolan pada tulang iga kiri bagian depan.
“Didapatkan bagian tulang iga yang menonjol dengan permukaan kasar, diduga akibat proses penyembuhan tulang,” jelasnya.
Jenazah AR pertama kali ditemukan penghuni indekos pada Minggu (21/9/2025) sekitar pukul 00.00 WIB. Saat itu, saksi mencium bau busuk dari salah satu kamar di lantai tiga indekos khusus wanita tersebut.
“Karena ada kondisi bau, saksi mengecek dan menemukan korban terbaring di lantai. Ia kemudian melapor ke sekuriti, sekuriti melapor ke Bhabinkamtibmas, lalu diteruskan ke Polsek Penjaringan,” kata Kapolsek Metro Penjaringan AKBP Agus Ady Wijaya.
Lokasi kejadian langsung dipasangi garis polisi oleh Unit Reskrim Polsek Penjaringan dan Polres Metro Jakarta Utara. Tangga dari lantai dua menuju lantai tiga ditutup agar TKP tidak rusak dan barang bukti tidak hilang.
Kehidupan AR di Indekos
AR diketahui tinggal bersama ibunya, MKR (35), di kamar lantai tiga rumah toko (ruko) yang dijadikan indekos khusus wanita. Bangunan itu terdiri dari tiga lantai dengan total enam kamar.
Namun, sejumlah saksi menyebut kehidupan AR tidaklah baik. Arif (42), kepala keamanan setempat, mengatakan kerap mendengar tangisan anak kecil dari kamar yang ditempati MKR.
“Penghuni kost sering dengar anak kecil menangis digebukin. Saya sendiri pernah melihat anaknya jalan sama ibunya dengan kondisi lebam di wajah,” ungkap Arif kepada Kompas.com, Senin (22/9/2025).
Meski begitu, warga sekitar tidak berani menegur karena MKR dikenal tertutup dan disebut memiliki gangguan jiwa.
“Kalau ditanya, jawabannya selalu tidak masuk akal. Jadi kami tidak berani banyak tanya,” tambah Arif.
Kesaksian Tetangga Soal Rencana Adopsi
Kisah lain datang dari Apaw (60), tetangga korban. Ia mengungkapkan, menantunya pernah berniat mengadopsi AR sejak masih dalam kandungan. Bahkan, keluarga Apaw sempat membantu biaya kehamilan MKR.
“Mantu saya mau ambil itu anak, bilangnya enggak usah bayar, cukup bayar rumah sakit aja. Tapi setelah lahir, kakeknya minta Rp 100 juta kalau mau diangkat anak,” ujar Apaw.
Karena keterbatasan ekonomi, niat mengadopsi pun batal. “Namanya orang susah, mana ada duit segitu. Padahal kalau diambil, anak itu mungkin lebih bahagia,” ucapnya.
Hingga kini, Polsek Metro Penjaringan sudah memeriksa tujuh saksi, termasuk kedua orangtua korban, MKR (35) dan ayahnya S (44).
“Kami masih melakukan pengambilan keterangan lebih mendalam kepada orangtua, karena ini menyangkut kondisi emosional mereka. Prosesnya harus bertahap,” jelas Kapolsek Agus Ady Wijaya.
Ayah korban, S, diketahui sudah berpisah dari MKR sejak empat bulan lalu dan tidak tinggal lagi di indekos tersebut. Ia sempat menyaksikan langsung kondisi jasad anaknya saat pemeriksaan dilakukan polisi.
Sementara itu, MKR sempat menghilang saat jasad AR ditemukan. Ia akhirnya ditemukan petugas keamanan bersama polisi pada Senin (22/9/2025) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB di kawasan Kertajaya, Penjaringan.
MKR kemudian dibawa ke Polres Metro Jakarta Utara untuk dimintai keterangan lebih lanjut. (Rani)

