Notification

×

Tag Terpopuler

Harga Tembakau Jombang Turun, Petani Merugi, Pemkab Sebut Masih Stabil

Jumat, 10 Oktober 2025 | Oktober 10, 2025 WIB Last Updated 2025-10-11T02:25:43Z

Jombang, korannasional.id - Harga jual tembakau di Kabupaten Jombang kembali menurun seiring munculnya fenomena kemarau basah yang berdampak pada mutu daun dan hasil panen. Meski begitu, Dinas Pertanian Kabupaten Jombang menyebut kondisi pasar masih dalam kategori stabil.

Penurunan harga ini dirasakan langsung oleh petani. Berdasarkan data Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jombang, harga tembakau kering yang sebelumnya mencapai Rp40 ribu per kilogram kini hanya berkisar Rp37 ribu. Sementara harga tembakau basah turun dari Rp4 ribu menjadi Rp2.800 per kilogram.

Ketua DPC APTI Jombang, Lasiman, membenarkan tren penurunan tersebut. Ia menyebut curah hujan yang masih tinggi meski sudah memasuki musim kemarau menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya kualitas daun tembakau.

“Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat kadar air di daun meningkat, sehingga mempengaruhi kualitas dan harga jual,” ucapnya saat dikonfirmasi pada, Jumat (10/10/2025).

Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Jombang, M. Rony. Ia menilai harga tembakau masih cukup baik, terutama untuk daun basah yang menurutnya masih dijual di kisaran Rp5 ribu per kilogram.

“Secara umum harga masih bagus. Hanya saja memang kualitas daun menurun akibat curah hujan di musim kemarau ini,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.

Rony juga menyinggung soal belum adanya skema asuransi pertanian untuk komoditas tembakau, yang hingga kini belum diatur oleh pemerintah pusat. Ia menyebut, asuransi pertanian yang ada baru mencakup tanaman padi.

“Kewenangan itu ada di pemerintah pusat. Saat ini, asuransi pertanian baru berlaku untuk padi, belum untuk tembakau,” ungkapnya.

Menghadapi perubahan iklim yang tidak menentu, Dinas Pertanian telah meminta penyuluh lapangan untuk mengimbau para petani agar mulai menyesuaikan pola tanam. 

Salah satu saran yang diberikan adalah menanam palawija sebagai alternatif saat musim kemarau basah.

Selain itu, petani juga diminta memperbaiki sistem drainase dengan menggali parit lebih dalam, antara 40 hingga 50 sentimeter, agar air tidak menggenangi lahan.

Sebagai langkah tindak lanjut, pada Maret mendatang Pemkab Jombang bersama APTI akan menggelar kegiatan tanam perdana tembakau di Desa Wadung, Kecamatan Kabuh.

Dalam kegiatan tersebut, rencananya Kepala BMKG Malang akan hadir memberikan penjelasan mengenai fenomena kemarau basah dan dampaknya terhadap pertanian.

Sementara itu, Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jombang, Hasan Sholahudin, menilai pemerintah perlu menghadirkan kebijakan perlindungan yang lebih komprehensif bagi petani.

“Asuransi pertanian itu penting, tapi jangan berhenti di situ. Pemerintah juga perlu memastikan hasil panen petani bisa terserap pasar dengan harga layak,” tegasnya.

Menurut Hasan, sistem pertanian terpadu yang menggabungkan perlindungan risiko dan jaminan distribusi hasil panen menjadi langkah ideal agar petani tidak selalu berada di posisi paling rentan setiap kali harga anjlok.


×
Berita Terbaru Update