Notification

×

Tag Terpopuler

Lomba Pisang Danor 2026 Diluncurkan, Wali Kota Eri Ingin Sampah Organik Selesai dari Rumah

Rabu, 05 Agustus 2026 | Agustus 05, 2026 WIB Last Updated 2026-08-06T05:48:30Z


Keterangan Foto : Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi didampingi Ketua TP PKK Surabaya Rini Indriyani meresmikan Lomba Pisang Danor 2026 di Graha YKP Surabaya


SURABAYA — Korannasional.id, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi meluncurkan Lomba Pisang Danor (Pemilahan Sampah Anorganik dan Organik) Tahun 2026 di Graha YKP, Medokan Ayu, Surabaya, Rabu (5/8/2026). Kompetisi edukatif ini bertujuan mendorong masyarakat untuk membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik dari tingkat rumah tangga.


Program ini diinisiasi oleh Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta DP3A-PPKB Kota Surabaya.
Tekan Bipping Fee TPA Benowo Demi Program Sosial


Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak akan selesai tanpa kepedulian lingkungan warga. Sebagian besar sampah di Surabaya merupakan jenis organik yang sebetulnya bisa langsung diolah dari rumah.


Saat ini Pemkot Surabaya harus membayar biaya tipping fee di TPA Benowo sekitar Rp217.000 per ton. Pengurangan volume sampah rumah tangga dinilai dapat menghemat anggaran daerah untuk dialihkan ke sektor lain.


"Kenapa saya ingin mengajak njenengan mengolah sampah. Karena daripada uang pemkot buat bayar sampah, mending uangnya dibuat untuk sekolah gratis mulai SD-SMA sampai kuliah, itu lebih bagus," tutur Eri Cahyadi, Rabu (5/8/2026).


Wali Kota Eri menambahkan bahwa Lomba Pisang Danor ini merupakan rangkaian awal sebelum digelarnya ajang yang lebih besar, yakni Lomba Kampung Pancasila.
Fokus Pemilahan Sampah Organik Rumah Tangga


Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, menjelaskan bahwa pemilahan sampah anorganik di Surabaya sejauh ini sudah berjalan baik melalui bank sampah. Oleh karena itu, Lomba Pisang Danor kali ini lebih difokuskan pada pengolahan sampah organik berbasis keluarga.


"Lingkup yang paling kecil yaitu keluarga. Indikator penilaian utama dalam lomba ini adalah kemampuan peserta mengurangi volume sampah harian yang dihasilkan," kata Rini Indriyani.


Sementara itu, Kepala DLH Kota Surabaya, M Fikser, menyebutkan bahwa setiap kecamatan akan diwakili oleh enam RW terbaik hasil seleksi tingkat kelurahan. Ia menekankan pentingnya pengolahan konsisten agar sampah yang telah dipilah tidak bercampur kembali saat diangkut.


"Yang organik diolah menjadi komposter, sedangkan yang anorganik dijual melalui bank sampah. Tujuannya agar efisiensi tipping fee TPA Benowo bisa dialokasikan untuk program pendidikan dan kesehatan," jelas M Fikser.


(*)

×
Berita Terbaru Update