Notification

×

Tag Terpopuler

IRPOM Sebagai Pilar Krusial Mitigasi Resiko Kekeringan Lahan Pertanian

Senin, 19 Oktober 2026 | Oktober 19, 2026 WIB Last Updated 2026-10-19T07:30:43Z

 Foto: Ka. DINTANPAN Rembang Agus Iwan Haswanto, S.Pt., M.Si.




REMBANG, Korannasional.id - Infrastruktur sumur irigasi berbasis pompa (Irigasi Perpompaan/IRPOM) dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) pada tahun 2026 ini terbukti menjadi solusi tercepat dan paling strategis untuk dapat mendongkrak produktivitas panen, dan menjadikanya sebagai pilar krusial dalam mitigasi terhadap resiko kekeringan lahan pertanian.

Dimana hal tersebut terjadi di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman kekeringan, karena infrastruktur ini bisa mengonversi lahan tadah hujan menjadi lahan produktif sepanjang tahun.

Seperti diungkap Ka. DINTANPAN Rembang Agus Iwan Haswanto, S.Pt., M.Si.Agus menjawab pertanyaan sejauh mana kemampuan IRPOM (Infrastruktur Perpompaan) tersebut mampu mendukung swasembada pangan secara nasional, beberapa waktu lalu, (15/10/2026).

Disampaikannya, bahwa Infrastruktur tersebut bagi pertanian merupakan solusi strategis dalam menghadapi perubahan iklim dan ancaman kekeringan, khususnya mengubah lahan tadah hujan yang biasanya pasif saat kemarau tiba kemudian menjadi lahan produktif sepanjang tahun.

"Dimana Infrastruktur tersebut memanfaatkan sumber air permukaan (seperti sungai, embung, atau danau) atau air tanah, untuk memastikan pasokan air ke sawah agar tetap stabil tanpa bergantung sepenuhnya pada curah hujan," ujar Iwan.

Lebih lanjut dikatakannya, jika sebelumnya lahan petani hanya bisa dilakukan 1 kali tanam dalam setahun (IP 100) karena hanya mengandalkan Tadah hujan, dengan Infrastruktur IRPOM ini petani akan bisa mendapatkan pasokan air cukup dan kontinu untuk hingga 3 kali tanam dalam setahun (IP 200 hingga IP 300).

"Sehingga ketika terjadi El Nino (kemarau panjang) sekalipun, Infrastruktur ini bertindak sebagai jaring pengaman menyelamatkan tanaman dari gagal panen (puso)," ungkap Agus.

Disinggung mengenai Perbandingan Efektivitas antara Irigasi Tradisional vs IRPOM, Agus menuturkan, bahwa kehadiran infrastruktur ini akan berdampak terhadap kemandirian petani pada cuaca. 

"Artinya, jika sebelumnya produktivitas petani sangat rentan terhadap kemarau ekstrem, tetapi dengan IRPOM kecukupan kebutuhan air pertaniannya bisa didapatkan petani secara stabil, dengan memanfaatkan akuifer tawar bawah tanah (60–70 meter)," tambah Agus.

Menjawab kemarau panjang (Super El Nino) berdampak pada penurunan debit air ekstrem pada sumber permukaan (sungai/embung) atau penurunan muka air tanah, sedangkan Infrastruktur tersebut tergantung pada ketersediaan air (sumber daya)?

Agus menuturkan, mengahadapi hal tersebut pihaknya akan menerapkan sistem pompa berantai (estafet) untuk menjangkau sumber air terjauh, termasuk  melakukan sinkronisasi terhadap jadwal irigasi dan pola tanam berdasarkan data prakiraan iklim BMKG, sebagai mitigasinya.

Sebelum mengakhiri dirinya berharap, untuk mencegah terjadinya kerusakan mendadak pada mesin, agar kelompok tani senantiasa memperhatikan perawatannya guna memperpanjang umur pakai mesin, memperhatikan kondisi sumur/air tanah, serta memperkuat manajemen intrnal kelembagaan, agar manfaat bantuan IRPOM tersebut bisa dirasakan bersama-sama, pungkasnya.

(Sugito/REDPEL).
×
Berita Terbaru Update