Notification

×

Tag Terpopuler

PEMKOT SURABAYA PRIORITASKAN PENANGANAN BANJIR SIMO HINGGA TANJUNGSARI PADA TAHUN 2026

Senin, 05 Januari 2026 | Januari 05, 2026 WIB Last Updated 2026-01-06T01:49:31Z



Surabaya, Korannasional.idPemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak cepat menangani akumulasi di sejumlah kawasan setelah hujan deras mengguyur Kota Pahlawan sejak Minggu sore (4/1/2026) kemarin. Sejumlah titik rawan banjir langsung menjadi prioritas penanganan, sekaligus masuk dalam rencana penanganan bertahap sepanjang tahun 2026.

 

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa banjir di kawasan Simo merupakan persoalan menahun yang membutuhkan penanganan menyeluruh. Menurutnya, wilayah Simo Kalangan dan Simo Hilir selama bertahun-tahun memang belum bisa menangani penanganan secara komprehensif. 

 

Saat ini, langkah darurat dilakukan dengan mengerahkan kendaraan berkemampuan khusus untuk penyedotan pengumpulan milik Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), yang didukung armada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya.

 

“Banjir di kawasan Simo ini memang sudah lama terjadi. Untuk sementara masih kita tangani dengan mobil pompa PMK dan penanganan Simo Kalangan baru akan kita mulai secara bertahap pada tahun 2026,” jelas Wali Kota Eri, Senin (5/1/2026). 

 

Sementara itu, pengumpulan yang sempat terjadi di Jalan Mayjen Sungkono, kata Wali Kota Eri, hanya berada di satu sisi jalan, tepatnya di sisi selatan atau sisi sungai. Kondisi tersebut terjadi karena pintu air sengaja ditutup menyusul curah hujan yang sangat deras. Aliran air yang terlalu kuat menyebabkan saluran lama di kawasan Pakis, khususnya Pakis 1B, ambrol.

 

"Kalau pintu air tidak kita tutup, wilayah Pakis bisa tenggelam. Maka kita alihkan sementara genangan ke badan jalan di Mayjen Sungkono, itu pun hanya satu sisi. Sisi lainnya aman, dan ketika hujan reda, air cepat surut," kata dia.

 

Saat hujan ekstrem di wilayah barat Surabaya, aliran air yang sangat deras juga menyebabkan plengsengan lama di kawasan Pakis jebol dan tidak mampu menahan debit udara. “Oleh karena itu, Pemkot Surabaya merencanakan pembangunan rumah pompa baru yang mengalirkan udara ke arah Gunungsari dan Ronggolawe, dengan penganggaran pada tahun 2026,” tuturnya.

 

Ia menambahkan, langkah penutupan pintu air tersebut merupakan upaya darurat agar kawasan organisasi tidak menimbulkan dampak yang lebih parah. Berdasarkan informasi dari BMKG, fenomena siklon tropis turut mempengaruhi Surabaya sehingga intensitas hujan menjadi jauh lebih tinggi dari biasanya. Oleh karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.

 

“Ke depan, Pemkot Surabaya memfokuskan penanganan banjir tahun 2026 di sejumlah kawasan, antara lain Simo Kalangan, Simo Hilir, Simo Rejo A, Simo Rejo 1A dan 1B, serta Tanjungsari,” imbuhnya.

 

Ia mencontohkan, penanganan banjir di kawasan Simo Kalangan memerlukan waktu yang lama karena sifatnya yang menahun, serupa dengan kondisi yang dulu terjadi di Dukuh Kupang dan kini sudah berhasil diatasi.

 

Untuk wilayah Simo, penanganan akan difokuskan pada pengaturan ulang aliran air dari wilayah hulu. Selama ini, Simo Kalangan menerima limpasan dari berbagai kawasan di atasnya. 

 

“Penanganan di Petemon sudah diselesaikan lebih dulu dengan pembangunan pintu air, sehingga selanjutnya fokus diarahkan ke Simo Kalangan. Beberapa wilayah seperti Pacuan Kuda kini sudah tidak lagi mengalami banjir karena telah tertangani,” ungkapnya.

 

Selain itu, penanganan sementara di Simo Hilir dilakukan dengan menata kembali area yang seharusnya menjadi bozem. Bangunan yang berdiri tanpa izin pemanfaatan tanah akan dibongkar dan difungsikan kembali menjadi bozem, seperti yang telah berhasil dilakukan di sisi selatan kawasan masjid. Di sisi timur, boezem baru juga akan dibangun secara bertahap.

 

“Sedangkan di kawasan Tanjungsari, sungai akan dilebarkan karena saat ini lebarnya menyempit jauh dari kondisi ideal akibat pemanfaatan ruang yang tidak sesuai. Karena tidak memiliki bukti kepemilikan lahan, fungsi sungai akan dikembalikan sebagaimana mestinya,” paparnya.

 

Di sisi lain, beberapa titik seperti Ketintang telah berhasil diatasi. Namun demikian, percepatan pembangunan rumah pompa di kawasan Ahmad Yani masih diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan banjir di wilayah Injoko Jemursari. “Rumah pompa di Margorejo juga menjadi perhatian karena bangunannya sudah ada, namun belum ditunjang saluran yang memadai,” kata dia.

 

Sejak tahun 2021, Surabaya tercatat memiliki sekitar 350 titik rawan banjir. Hingga saat ini, sekitar 100 titik telah terselesaikan, sementara 250 titik lainnya masih menjadi pekerjaan rumah. Penanganannya dilakukan secara bertahap dan berbasis kawasan, termasuk di Jalan Jemursari yang penanganannya melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur karena salurannya merupakan saluran alam dengan bentangan yang cukup panjang.

 

“Pemkot Surabaya juga menggandeng Pemprov Jatim dan Kementerian PUPR, khususnya untuk pembangunan dan perbaikan saluran di Jalan Jemursari serta jalur menuju Gresik yang hingga kini belum memiliki saluran di sisi kanan dan kiri jalan,” terangnya.

 

Menurut Wali Kota Eri, permasalahan banjir di Surabaya bukan semata-mata soal anggaran, tetapi juga menyebabkan saluran yang tertutup dan ketidaktertiban pembangunan drainase selama puluhan tahun. Banjir tidak hanya dipicu oleh curah hujan tinggi, tetapi juga oleh minimalnya saluran di depan bangunan, di mana ukuran saluran untuk rumah tinggal dan rumah usaha pun berbeda.

 

Untuk itu, Pemkot Surabaya menegaskan bahwa setiap izin bangunan baru wajib dilengkapi saluran drainase. Jika kewajiban ini tidak dipenuhi, izin tidak akan diterbitkan sebagai langkah pencegahan agar permasalahan banjir tidak terus terulang.

 

“Ke depan, setiap bangunan, terutama yang berada di tepi jalan raya, harus memiliki saluran dengan ukuran yang disesuaikan fungsinya, baik untuk rumah tinggal maupun usaha. Hal ini akan terus disosialisasikan, karena jika seluruh beban diserahkan kepada pemerintah, anggaran tidak akan mencukupi,” tutupnya. (Red/Hms)

×
Berita Terbaru Update