Keterangan Foto : Yani Ardiansyah alias Ponari (tengah), didampingi rekannya, saat memberikan keterangan pers kepada awak media terkait laporan balik kasus dugaan penganiayaan di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.PASURUAN, Korannasional.id – Kasus dugaan penganiayaan yang terjadi di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, terus bergulir dan memasuki babak baru. Korban dalam peristiwa ini, Yani Ardiansyah alias Ponari, membantah keras laporan balik yang dilayangkan oleh pihak terlapor ke kepolisian. Menurut Yani, tuduhan tersebut memutarbalikkan fakta karena dirinya merupakan korban pertama yang mengalami pemukulan.
Yani menegaskan bahwa tuduhan yang menyebut dirinya melakukan penganiayaan sama sekali tidak berdasar. Ia mengaku keberatan atas laporan balik tersebut dan menaruh harapan besar agar penyidik kepolisian dapat mengusut perkara ini secara profesional, objektif, dan transparan berdasarkan alat bukti yang sah.
"Saya tidak terima dengan laporan itu. Justru saya yang menjadi korban karena pemukulan lebih dulu dilakukan oleh pihak sana," ujar Yani saat memberikan keterangan kepada awak media, Sabtu (4/7/2026).
Kronologi Kejadian Menurut Korban
Yani, yang akrab disapa Ponari, menjelaskan bahwa sebelum keributan memuncak, dirinya sebenarnya sudah berupaya meredam situasi yang memanas. Ia bahkan berniat untuk meninggalkan rumah warga berinisial R di Desa Tutur Wetan guna menghindari konflik. Namun, saat hendak pergi, ia mengaku tiba-tiba diserang.
"Saya sudah berusaha meredam suasana dan mau pergi. Tetapi tiba-tiba saya dipukul oleh orang yang berada di samping R. Karena jumlah mereka lebih banyak, saya kembali menjadi sasaran pemukulan," tuturnya.
Akibat pengeroyokan tersebut, Ponari mengalami sejumlah luka lebam di tubuhnya. Ia mendesak agar pihak kepolisian bertindak adil tanpa tebang pilih dalam memproses kasus ini.
"Saya berharap Polres Pasuruan menangani perkara ini secara adil dan objektif. Tuduhan yang dilaporkan kepada saya itu sama sekali tidak benar," tegas Ponari.
Saksi Kunci Bantah Terlibat Pengeroyokan
Bantahan serupa juga disampaikan oleh SF, rekan korban yang berada di lokasi saat insiden berdarah itu terjadi. SF menepis tudingan dari pihak terlapor yang menyebut dirinya ikut melakukan aksi penganiayaan. Ia menegaskan, kehadirannya di lokasi murni untuk menyelamatkan Ponari dari amukan massa.
"Saat itu saya bersama Memet hanya fokus membawa Ponari keluar dari lokasi. Kami tidak melakukan pemukulan ataupun tindakan lain. Kami sangat khawatir karena Ponari terus mengeluh dadanya sakit akibat dipukul," ungkap SF.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa ini bermula ketika Ponari mendatangi kediaman R di Desa Tutur Wetan untuk menagih persoalan piutang. Pertemuan yang awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan tersebut justru berujung ricuh.
Pihak korban yang tidak terima atas tindakan kekerasan tersebut telah resmi melaporkan kejadian ini ke Polres Pasuruan untuk diproses hukum lebih lanjut.
(Dedy)